Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah itu bukan hanya menjadi perhatian dunia politik internasional, tetapi juga mengguncang ranah pasar keuangan global. Dr. Septian Wahyudi, S.AB., M.Si., Penanggung Jawab Galeri Investasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau (UIR), saat di wawancara oleh Tim Humas UIR pada Selasa (03/03/2026) menjelaskan bahwa konflik Amerika dan Iran secara umum meningkatkan global risk uncertainty.
“Pasar saham global cenderung bereaksi negatif karena konflik geopolitik berpotensi mengganggu stabilitas energi, rantai pasok global, serta arah kebijakan moneter dan fiskal negara besar,” ujarnya.
Menurutnya, dampak yang paling nyata terlihat pada meningkatnya volatilitas pasar, pelemahan indeks saham, serta pergeseran dana investasi ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah. Fenomena ini dikenal sebagai sikap risk-off, di mana investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi ketika ketidakpastian global meningkat.
IHSG: Terkoreksi, tapi Tidak Selalu Terpuruk
Septian menilai bahwa dampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) umumnya bersifat sentimen jangka pendek, kecuali konflik berkembang menjadi krisis global berkepanjangan. “IHSG biasanya terkoreksi di awal karena aksi risk-off investor asing. Namun secara fundamental, ekonomi Indonesia relatif tidak terdampak langsung,” jelasnya.
Ia mencontohkan peristiwa invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 dan konflik Rusia–Ukraina tahun 2022. Pada fase awal, pasar saham global termasuk Indonesia mengalami tekanan. Namun seiring meredanya ketidakpastian dan kuatnya fundamental domestik, pasar kembali pulih. Bahkan dalam kasus konflik Rusia–Ukraina, IHSG relatif cepat rebound karena ditopang kenaikan harga komoditas dan stabilitas ekonomi nasional.
Antara Faktor Ekonomi dan Psikologi Investor
Gejolak pasar saat konflik bukan semata-mata persoalan ekonomi riil. Menurut Septian, terdapat kombinasi antara faktor ekonomi dan psikologi investor. Dari sisi ekonomi, konflik menimbulkan ketidakpastian terhadap stabilitas sektor tertentu, khususnya energi dan perdagangan global. Sementara dari sisi psikologis, investor cenderung bereaksi cepat melalui aksi jual sebelum dampak nyata benar-benar terasa.
Pasar pada dasarnya sangat sensitif terhadap ketidakpastian, bahkan spekulasi atau potensi eskalasi konflik saja sudah cukup untuk mendorong pergerakan signifikan di bursa saham dunia.
Risiko atau Justru Peluang?
Septian menegaskan bahwa pendekatan sangat bergantung pada profil risiko dan horizon waktu masing-masing investor. Untuk trader jangka pendek, strategi defensif dan pengelolaan risiko menjadi prioritas utama. Namun bagi investor jangka menengah hingga panjang, volatilitas akibat sentimen geopolitik dapat menjadi momentum akumulasi saham-saham berkualitas yang terkoreksi bukan karena penurunan kinerja, melainkan karena sentimen global.
Sektor yang Diuntungkan dan Tertekan
Dalam situasi konflik, tidak semua sektor mengalami dampak yang sama. Sektor energi seperti minyak dan gas, komoditas, serta emas biasanya diuntungkan karena kenaikan harga dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Sebaliknya sektor perbankan, pariwisata, manufaktur, serta industri yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi cenderung mengalami tekanan.
Sementara itu, sektor defensif seperti consumer goods, telekomunikasi, dan kesehatan relatif lebih stabil karena permintaannya tidak banyak terpengaruh oleh gejolak global.
Lebih lanjut, di tengah ketidakpastian geopolitik, dapat diambil Kesimpulan bahwa investor perlu tetap rasional dan berbasis pada analisis fundamental, bukan sekadar mengikuti kepanikan pasar. Konflik global memang memicu gejolak, namun sejarah menunjukkan bahwa pasar selalu menemukan titik keseimbangannya kembali.